Kadang aku bermimpi untuk memahami arti,
Sejuk tertindih menunjuk sedih.
Walau hanya dengan menabrak langit merasa,
Damai hingga membuai jiwa.
Hingga sampai dipelupuk mata ingin mendamba,
Ramai diantara menderai tawa.
Sejuk tertindih menunjuk sedih.
Walau hanya dengan menabrak langit merasa,
Damai hingga membuai jiwa.
Hingga sampai dipelupuk mata ingin mendamba,
Ramai diantara menderai tawa.
Malang aku melamun menimbang ragu,
Bahagia terganggu dibaliknya menunggu.
Sampai waktu berdiri dimana ruang menerka,
Untung apa tergantung siapa
Bahagia terganggu dibaliknya menunggu.
Sampai waktu berdiri dimana ruang menerka,
Untung apa tergantung siapa
Sedang aku bukanlah kehidupanku yang merana,
Dingin derita ingin bercerita.
Lagipula keadaan raga manusia ingin meraya,
Sepi dikala meratapi surga.
Sehingga malam leluasa merasuk,
Hangat peluk saat terkantuk.
Dingin derita ingin bercerita.
Lagipula keadaan raga manusia ingin meraya,
Sepi dikala meratapi surga.
Sehingga malam leluasa merasuk,
Hangat peluk saat terkantuk.
Bilang aku sudah sampai saat untuk menyerah,
Canda mengalah pada gelisah.
Tetapi aku tak mau biarkan ini menyapu,
Diam terenyuh menyelam dayu.
Menyiapkan kita bersatu menyangga,
Tiang manusia yang berusaha
Canda mengalah pada gelisah.
Tetapi aku tak mau biarkan ini menyapu,
Diam terenyuh menyelam dayu.
Menyiapkan kita bersatu menyangga,
Tiang manusia yang berusaha
Karena tuhan sedang mengujikan,
Perjalanan dengan pengharapan.
Perjalanan dengan pengharapan.


0 komentar:
Posting Komentar