Kami adalah generasi hasil permainan monopoli.
Yang digulirkan dadunya tiap lima tahun sekali.
Banyak dari mereka melompati masalah.
Dan berharap supaya kami cepat lupa.
Banyak langkah akan kepentingan.
Berakal busuk seperti setan.
Yang digulirkan dadunya tiap lima tahun sekali.
Banyak dari mereka melompati masalah.
Dan berharap supaya kami cepat lupa.
Banyak langkah akan kepentingan.
Berakal busuk seperti setan.
Mana janji manis diawal yang diumbar?
Bisa-bisa bubar.
Padahal ini permainan team.
Harusnya menyelamatkan kaum victim.
Memang salah kami memilih kalian.
Karna kami tak punya pilihan.
Kartu kesempatan terus kami beri karna kami lemah.
Sang dewa membuat kehidupan kami tambah susah.
Ngapain pungut pajak tinggi?
Kalo ujung-ujungnya ngutang lagi.
Pengganggu dipenjarakan, pelaknat dibiarkan.
Orang pintar diungsikan, orang aneh diidolakan.
Bangunan asing dibiarkan mengeruk hasil bumi.
Padahal berada diatas tanah kami.
Mungkin ini monopoli berpapankan catur.
Hitam dan putih yang tidak akur.
Kami tidak butuh pangeran, ibu peri dan dewa-dewi cinta pemanah.
Yang kami butuhkan orang yang dapat memangku amanah.
Kami butuh yang memenangkan rakyat sesungguhnya.
Bukan rakyat dongeng semata.
Jangan seperti sekarang ini.
Uang serut!
Bikin bangkrut!
Uang serut!
Bikin bangkrut!
![]() |
| Watercolor Painting by Elena Romanova (@FairySomnia) Original Poetry by Rinaldi Madani (@RinaldiMadani) |


0 komentar:
Posting Komentar